Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Desember 2009

tunggu dan tunggu

tak cukup hanya melihat kehebatan-kehebatan api. dari obor raksasa yang tertancap di atas tower bandara Hassanudin. dengan sepenuh hati kau menyaksikan aku dan menyabarkan aku sampai-sampai menelfon aku pada saat aku memang ingin ditelfon. tak cukup memandangi menara eifel. dari ratusan orang yang terjebak kagum memandangnya. dengan segudang mimpi kau menabuh genderang semangatku. yang beberapa bulan terakhir tak pernah ketemu layu. tak cukup menaiki tembok cina yang tak akan runtuh. dengan kemampuan yang sedikit kau melewati jalan yang bagimu itu sulit. tetapi kau bisa. kau akan bisa dan tak pernah mengeluh lagi. aku merasa bahagia. dan kebahagiaan ini tak bakal cukup hanya dengan keistimewaan duniawi yang serba raksasa itu. kesabaran tak pernah ada habisnya, sayang…

jogja
9 des 2009
sehabis listrik di sana konslet

Kamis, 15 Oktober 2009

Kangen

Bagi banyak orang, rindu atau kangen adalah sebuah harapan, yang ujungnya harus dengan pertemuan. Ada juga orang yang menikmati kangen cukup dengan melamun… So, ujungnya ya cuma lamunan itu, tanpa harus ada pertemuan…


Hmmm…..


Tetapi, kangenku padamu jelas lain,

Ini adalah kangen yang sudah tertahan 15 tahun lebih lamanya,

dalam jejak yang hilang ditelan waktu…dan sekarang adalah pertemuan itu…

Bayangkan….15 tahun adalah waktu yang lama sekali, bukan?


Dan seringkali, lagu-lagu cinta mengingatkanku akan keindahan rasa kangen itu, yang menurut penyair Darmanto Jatman, kata “kangen” tak pernah punya padanannya. Ia sungguh indah dan memesona perasaan.


Yah, kangen. Kamu pasti pernah mengalaminya juga, kan?


Dewa 19 membikin lagu “Kangen” pada tahun 90-an, saat kita masih culun dan belum pernah kenalan, tetapi kita satu atap di Maria Suci Diah Rinumpaka Niskala. Kini di tahun 2009, kangen itu muncul lagi… dalam keterpisahan Jogja dan Makasar, dalam jejak yang sudah ketemu telapaknya.

Dan menurutku ini wajar, karena aku manusia yang bisa dibuat bahagia oleh rasa kangen.


Kamu tahu, kenapa rasa kangen itu muncul begitu hebat akhir-akhir ini?


Yah, jawabannya adalah karena kamu telah berubah menjadi hujan…

yang membasahiku pelan-pelan,

kamu telah berubah menjadi embun, yang artinya kesejukan.

juga karena keramahan-keramahanmu yang mengalahkan perempuan mana pun

di dunia ini.

Percayalah, rasa kangen itu akan makin mekar dari hari ke hari….


Jogja, 15 Oktober 2009