Rabu, 10 Februari 2010
Kuncup Waktu
tanpa perlu kau bicara, aku telah mengenalinya...
: senyummu rekah--dari bulirbulir cahaya mata
untukku tetap singgah, dalam pelukmu dan nafasmu
bungabunga tumbuh begitu saja tanpa peran manusia
air hujan deras menyiraminya, membuatnya subur
ku memandanginya seperti kumelumat dan menikmati bibirmu
yang berpagut hangat dalam hujan,
dan tetap menjadi hujan yang menyegarkan
sementara pelangi mengelilingi langit
seperti rahasia yang pelanpelan kita cari
saban hari kumenghitung waktu
kuncupkuncup itu lamalama akan sampai di dahimu
aku tertidur dan kamu mencium
kamu mencium dan aku tertidur
kita tenggelam dalam nafas
: membawanya ke hulu mimpi
Erie,
Jogja, 10 Feb 2010
Minggu, 24 Januari 2010
Harapan yang Tidak Melahirkan Kekecewaan
Sejatinya manusia punya harapan. Dan secara sederhana, harapan itu muncul karena dorongan untuk memiliki, menginginkan, dan mendapatkan sesuatu. Jika harapan itu terwujud, yang dirasa adalah rasa senang sebelum hirau akan sebab akibat sesudahnya. Umpamanya, ketika manusia berharap dirinya kaya, ia akan memperjuangkan diri supaya ia menjadi kaya. Bisa dengan cara bekerja keras, juga bisa dengan cara jahat: misalnya merampok. Yang penting, tujuannya mencapai kekayaan dapat tercapai.
Harapan itu boleh-boleh saja. Tidak ada yang salah atas ini semua. Tetapi sekarang kita perlu bertanya ulang: bagaimana cara kita memanajemeni harapan? Apa yang harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan berharap akan sesuatu?
Pelajaran ini akan memberi manfaat kepada kita untuk menepis rasa kecewa. Karena banyak kejadian, ketika manusia berharap terlalu banyak, dan ketika tidak mendapatkan yang ia harapkan, selanjutnya ia kecewa, dan bisa berujung pada frustasi, stres, bahkan celaka naga dan bunuh diri. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan. Oleh sebab itu, harapan juga musti kita kelola dengan pikiran dan perasaan yang baik, supaya sebagai manusia, kita bisa belajar meningkatkan kualitas diri dari hari ke hari, menjadi baik secara fisik dan rohani. Goal dari pelajaran ini sebenarnya adalah: kita tidak diperkenankan berharap terlalu banyak dalam hal apa pun, selain sewajarnya saja, untuk menjauh dari rasa kecewa.
Suatu ketika, cinta di antara sepasang remaja menghasilkan kematian, di suatu daerah, di Tokyo. Alasannya sederhana, cinta yang ditolak. Karena frustasi berkepanjangan, pemuda yang bernama Huang Fan itu sengaja bunuh diri dengan cara meminum racun. Cie Li Fu, gadis yang dikaguminya, betapapun ia tak mencintainya, merasa benar-benar terpukul akibat kejadian itu. Saban hari gadis itu dihantui rasa bersalah berkepanjangan, tak bisa tidur nyenyak karena berpikiran macam-macam. Karena tak sanggup menahan rasa traumatik yang menyiksa batin dan pikirannya, akhirnya si gadis menyusulnya dengan melakukan bunuh diri juga, dengan cara yang sama. Alhasil, keduanya mati.
Cinta menjadi sebuah kata bisu yang hanya melahirkan kematian, bukan keabadian.
Kisah di atas menjadi salah satu contoh “tidak bekerjanya pikiran dan perasaan” dalam rangka memutuskan sesuatu: rasa kecewa menjadi segalanya. Kalaupun cinta adalah sejarah panjang dari hidup manusia, alangkah manusia sesungguhnya bisa belajar dari berbagai macam literatur yang ada. Atau, banyak sekali kisah abadi yang menguatkan manusia karena cinta, yang sesungguhnya intinya adalah kasih, sebuah pertautan antara kesabaran dan kesungguhan, juga rasa saling memiliki dan menghargai demi tujuan mulia. Oleh karenanya, emosi dalam pengertian kemarahan, dengan sendirinya akan menjauh.
Perlunya berpikir “panjang” dan berwawasan luas
Orang yang luas wawasannya, tentu akan berpikir lebih dewasa daripada yang sempit wawasannya. Kedewasaan yang dimaksudkan di sini adalah kemampuan menimbang kejadian demi kejadian, dan menemukan solusi yang tepat atas setiap permasalahan-permasalahan yang dialami. Orang dewasa (bukan dalam pengertian umur), tidak harus orang pintar atau cerdas. Kedewasaan adalah pembelajaran, atau keterbukaan untuk mengenali hal-hal paling mendasar dari hidup manusia, juga mendalami sebab akibat dari setiap keputusan. Makanya, orang yang sudah tua belum tentu dewasa, begitu juga sebaliknya, orang yang masih remaja juga belum tentu tidak dewasa.
Kalau manusia dipahami sebagai dimensi waktu dan peristiwa, di dalamnya akan termaktub keputusan demi keputusan dalam menentukan hidupnya. Salah satu ciri orang dewasa adalah selalu hati-hati jika bicara. Ia sanggup melihat persoalan secara mendalam dan mengatasinya dengan pikiran jernih, tak pernah bermaksud merugikan orang lain.
Sesungguhnya, pelajaran menepis rasa kecewa ini sangat berhubungan dengan kemampuan mendewasakan diri. Lalu, bagaimana usaha untuk mendewasakan diri? Banyak sekali jalan.
Salah satunya adalah dengan membaca pengetahuan apa saja, terutama psikologi dan humanisme (ilmu-ilmu kemanusiaan) dengan tekun, tanpa berpikir membaca itu bikin ngantuk atau membosankan. Tetapi haruslah berpikir sebaliknya: membaca itu menyenangkan dan ilmu akan bisa diaplikasikan untuk mengatasi masalah-masalah manusia. Penting pula untuk bergaul dan belajar kepada banyak orang, siapa pun itu, tanpa harus menutup diri.
Menjadi psikolog untuk diri kita sendiri
Ilmu psikologi paling menyumbang banyak hal untuk mengatasi persoalan manusia, dari masalah sederhana sampai akut. Psikologi memberikan perhatian yang lebih luas bukan hanya pada tingkatan teori, tetapi juga praktek-praktek yang mampu memperkecil jumlah kematian seseorang yang diakibatkan karena frustasi.
Banyak psikolog atau konsultan yang sungguh-sungguh memahami persoalan hidup, karena sebelumnya mereka pernah mengalaminya dan belajar banyak dari buku-buku. Psikolog jelas bukan peramal, yang hanya melihat persoalan dari “terawang”. Psikolog adalah murni manusia, yang memiliki kemampuan membaca mimik, gestur, sikap, sifat, cara, dan segenap dimensi manusia yang lain. Oleh karenanya, psikolog harus membekali dirinya dengan bermacam ilmu, seperti antropologi, sosiologi, manajemen, agama, dan sebagainya.
Tulisan ini tidak menyarankan untuk bergantung kepada para psikolog yang biaya konsultasinya mahal. Tetapi justru, tulisan ini akan membimbing kita untuk menjadi psikolog, minimal bagi diri kita sendiri. Alias, sebetulnya gampang kok menjadi psikolog! Supaya, ketika menghadapi setiap permasalahan, pikiran kita menjadi lebih terbuka dan sanggup mengatasi semuanya dengan gembira, tanpa ada kerugian fisik atau batin yang diakibatkan karena masalah itu.
Harapan yang sewajarnya
Nah, kembali kepada harapan. Ada sebuah pertanyaan: bagaimana harapan yang sewajarnya itu? Apa ukuran untuk menentukan bahwa kita sudah netral, atau berharap sewajarnya tadi?
Contoh sederhana adalah mengharapkan perhatian dari orang lain. Apakah itu wajar? Dalam terminologi urban-modern, dikenal istilah “caper” atau cari perhatian. Apa maknanya? Apakah manusia tidak boleh berharap untuk mendapatkan perhatian, dari teman, adik, sahabat, kakak, orang tua, pacar, orang tak dikenal, dan sebagainya. Boleh-boleh saja. Akan tetapi, sejauh mana yang kita harapkan itu sebelumnya juga harus jelas terlebih dahulu.
Misalnya, ketika sebelum kerja kita berharap dikirimi sms yang isinya: “Met pagi. Met kerja. Hati-hati ya..jaga diri baik-baik jangan lupa makan.”—itu sesungguhnya hal yang sangat wajar. Tetapi ternyata, harapan kita itu tidak terkabul, alias, orang yang kita harapkan akan mengirimi sms itu ternyata malah nggak ngirimin. Apa yang terjadi? Kita kecewa karenanya.
Nah, sesudah itu, ketika di perjalanan menuju kantor, kita justru tidak memikirkan jalan, tetapi memikirkan kekecewaan tadi, karena harapan kita tidak terkabul. Konsentrasi mengendarai motor jadi hilang. Akibatnya, ada sebuah kejadian kecelakaan yang mengakibatkan kita jatuh dari motor karena kondisi pikiran kita blank seketika.
Nah...dalam kasus ini, harapan telah berubah menjadi kekecewaan, dan kekecewaan telah berubah lagi menjadi celaka, karena kita berharap orang lain ikut menyelamatkan kita dengan kata: “hati hati ya...” tetapi kita sendiri tidak punya kekuatan untuk menjaga diri kita sendiri tanpa bergantung dari perhatian orang lain. Kita lantas menyalahkan orang yang tidak mengirimi sms tadi: “Gara-gara kamu nggak ngirimi sms aku jadi kecelakaan!”
Hmmm....coba kita coba bedah masalah ini pelan-pelan.
Kita akan melihat dari sudut “si pengirim sms” dan sudut “yang dikirimi sms”. Sebelumnya kita harus paham posisi keduanya, tanpa berpikir pembicaraan ini terjadi antara teman, sahabat, atau pacar. Yang jelas pembicaraan ini adalah antara manusia dan manusia, bukan setan dan setan, atau jin dan jin, atau demit dan demit, atau warok dan iblis, atau nyi roro kidul dan mbah jogo. Bukan itu. Ini hanyalah manusia antara manusia.
Kasus di atas jelas menunjukkan, si pengharap terlalu percaya bahwa kata-kata punya kekuatan lebih besar dari kemampuan manusia sesungguhnya yang mandiri. Si pengharap terlalu percaya intensnya komunikasi lewat hand-phone akan menunjukkan kualitas dan keselamatan. Si pengharap terlalu percaya bahwa ungkapan “hati-hati ya..” menjadi bagian penting yang rasanya mutlak untuk dibaca, dicermati dan ditafsirkan. Si pengharap terlalu kacau pikirannya, kerena ia sesungguhnya tidak memahami hal yang paling mendasar dari unsur komunikasi antar manusia: yaitu kesabaran, kerendah hatian dan menerima apa adanya.
Mustinya, jika si pengharap tadi berwawasan luas, dewasa dan berpikir panjang, yang ada di kepalanya tentu berpikir lain, apakah si pengirim sms tadi tengah sibuk, sehingga tak sempat memberi “perhatian”. Ataukah pulsa si pengirim sms tadi habis, sehingga tak bisa mengirim sms. Ataukah si pengirim sms tadi tengah lupa, karena ia sedang memikirkan hal lain yang menurutnya lebih penting daripada sekadar kebiasaan mengirim sms kepada temannya. Ataukah, yang paling mendasar, si penerima sms mustinya tidak boleh berharap apa pun kepada si pengirim sms, kalau isinya hanya sekadar kebiasaan yang tidak benar-benar memberikan informasi yang penting untuk dijadikan bekal selama perjalanan. Jadinya, sesungguhnya si penerima sms kudu mandiri, dan tidak memiliki kebergantungan terhadap perhatian-perhatian orang lain.
Refleksi diri setiap hari
Selanjutnya adalah proses refleksi diri, bahwa yang paling penting dari ini semua, adalah sewajarnya kita manusia membentengi diri dan mengoptimalkan kemampuan-kemampuan diri dengan memanajemeni harapan dengan wawasan luas. Bukan berarti perhatian orang lain tidak kita butuhkan. Itu tetap perlu. Tetapi sebelumnya, yang lebih penting adlah kita harus makin optimal “memperhatikan diri kita sendiri dulu” dengan optimal, sebelum berharap orang lain memperhatikan kita. Sudahkah hal itu dilakukan?
Hmmm....tentu saja kita tidak ingin mengkoleksi rasa kecewa sampai terkumpul satu almari.
Solo, 24 Januari 2010
Senin, 18 Januari 2010
Wish You Were Here
aku angin yang berkelibat di antara dingin malammu,
aku salju yang membalut gelora panas hasratmu,
sampai kau tak sadarkan diri, tengah melamunkanku malam ini…
biarkan dirimu berdiam di situ sendiri…dan pelanpelan kau akan katakan,
sebuah kalimat yang tak punya pengganti lagi:
“sejujurnya aku mencintaimu,” katamu.
lalu kau bilang dalam hati: “aku membutuhkanmu”
sesudah itu kau kembali berkata: “wish you were here”
kuyakin itu datang seketika,
ketika kesepian demi kesepian bermukim di dahimu,
pada saat kau dikurung selimut tebal…
yah…itulah isyarat sebuah kerinduan…
yang tak bisa dipungkiri lagi…
kau tentu masih ingat sajak Pablo Neruda yang katamu so sweet :
ketika ku tertidur, seolah matamulah yang terpejam
hehe...
So, dengan sendirinya kita akan didatangi cinta,
tanpa perlu kita mencarinya…
Jogja, 18 Januari 2010
Rabu, 09 Desember 2009
tunggu dan tunggu
jogja
9 des 2009
sehabis listrik di sana konslet
Kamis, 03 Desember 2009
Sriwijaya Air Masuk Kampung
Take off dari jalan protokol di depan Pasar Gede Solo. Pilotnya lalu membawaku memasuki kampung-kampung. Seperti hendak menabrak rumah tapi gagal. Sempat sedikit melewati semacam kamp militer di daerah “entah.” Berhenti sebentar di situ, aku jalan-jalan di pasar malam. Ada sebuah stan buku bertuliskan “Dewan Kesenian”. Setiap hari stand itu membagikan buku-buku diskon. Bahkan, buku-buku yang bagus pun dijual dengan harga sangat murah: 7000 rupiah. Aku nggak ngerti, apa arti mimpi ini... Sriwijaya Air segede gitu bisa masuk kampung! Dan take offnya dari Pasar Gede. Aneh....
Jogja, 24 Nov 2009
bibirmu mekar begitu saja
malam ini kita baru saja selesai mengobral sepoisepoi malam,
yang dibubuhkan lapis demi lapis nafasku-nafasmu.
obrolan memadat jadi tawa-tawa kecil.
lama-kelamaan...tak sadar kau ucapkan kesan-kesan yang amat manis
—di antara guratan bibir merah jambumu yang mekar begitu saja.
selalu...dan selalu begitu
Lembayung
Suatu ketika di musim gugur. Skandinavia, 1983. Seorang gadis menyepi mencari kebahagiaan di Vadso, sebuah desa terpencil di ujung geografi. Sawah-sawah tengah menguning. Pohon cemara dan bunga raflesia terlihat sungguh perawan. Langit tidak sendiri. Ia berteman warna kuning-orens dan guratan sinar lurus yang lama-lama pudar membentuk komposisi indah. Gadis itu mengangkat kepalanya ke atas. Ia mengagumi keindahan lembayung. "Aku seperti langit itu," katanya dalam hati.
Vadso bukanlah tempat impian, bagi Karina, nama gadis itu. Tetapi begitu mudahnya mengatakan gelisah dan menggantinya dengan tangis, atau lamunan yang berujung pada kekosongan pikiran. Usianya belumlah genap 19 tahun, tetapi secemerlang pemikir yang menyumbangkan ilmunya untuk dunia, Karina adalah harapan bagi masa depan. Ia menyepi untuk mencari kesamaan-kesamaannya dengan alam.
Alam itu, yang terdiri dari air, cahaya, dan udara, selalu memberikan inspirasi bagi Karina, di sela-sela perenungannya mencari hakikat hidup: tentang kesunyian dan kefanaan. Air melepaskan dahaga. Cahaya memberi terang pada setiap jalan.
Dan udara adalah kebebasan.
Suatu waktu ia bertemu seorang pria yang menanyakan tentang cita-cita. "Tahukah kamu, kenapa seorang Bunda Teresa memiliki cita-cita yang amat sederhana? Yaitu melayani umat manusia. Tetapi, dalam kesederhanaan itu tersimpan sesuatu yang tidak mudah. Yang tidak bisa dicapai tanpa adanya ketulusan. Apa cita-citamu, Karina?"
Karina tertegun. Ia menatap wajah pria itu dengan dahi sedikit berkerut. Tetapi pria itu mengerti, wajah Karina bukanlah tanpa sebab. Ia tengah mencari jawaban yang pasti. Sementara, daun-daun di sekitarnya satu-persatu berjatuhan.....
Sama seperti ketika Mahatma Gandhi mencita-citakan umat manusia terbebas dari segala jenis permusuhan dalam jalan perdamaian, kasih sayang, dan kebahagiaan. Karina merenung dan mengingat barisan mutiara Dhammapada, tentang Sukha Vagga (kebahagiaan). Buddha Gotama mengajarkan pada gadis itu: "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci."
Yah, kebencian bukanlah tujuan untuk mencari kebahagiaan. Seperti gunung yang nampak indah menjulang, kebiru-biruan. Tetapi, pendakian di atasnya tidaklah semudah menggelincir di atas salju. Ada juga kemungkinan untuk hilang dan tak pernah kembali lagi, seperti cerita pecinta alam di suatu sore.
Ah, Karina, kamu adalah gadis yang penuh kelembutan. Perasaanmu adalah jelmaan dari sutra-sutra yang berkelebatan di angin. Pria itu mengerti, kelembutan tak pernah lahir dari keterpaksaan, melainkan ketulusan hati. Tetapi cita-cita itu, yang kau jawab dengan penuh rasa sungkan, adalah sebagian dari mimpi-mimpimu selama ini: tentang janji-janji-Nya yang indah.
Karina pun akhirnya menjawab pertanyaan pria itu: "Cita-citaku akan tumbuh bersama perasaan-perasaan-Nya. Dan aku akan menjadi perempuan yang berbahagia karena cinta. Sederhana, bukan?"
Pria dengan tatapan tajam itu terheran-heran mendengar jawaban dari bibir Karina, yang tak meninggalkan kepastian. "Siapa yang dimaksud 'Nya' sesudah kata perasaan? Akankah Tuhan? Akankah kekasih? Ataukah alam semesta?" Gumam pria itu.
Makin sulit bagi Karina, seorang perempuan biasa namun bersahaja itu, untuk menolak kebahagiaan, dan memperjuangkannya sehingga menjadi tujuan dari hidupnya. Usia 19 tahun bukanlah usia yang sedikit untuk titik tolak sebuah langkah.
Sesudah gumamnya, Pria itu mau bertanya apa lagi pada Karina?
Selalu ada yang mengejutkan, dari perjumpaan-perjumpaan Karina dengan banyak orang. Terutama ketika ia ingin duduk dan menyepi, selalu saja ada pria yang menanyakan hal-hal yang membuat Karina bertanya kembali, siapa dirinya.
Siapa sesungguhnya perempuan ini? Apakah ia terlalu salah dan buru-buru menilai kehidupan? Bahkan egois dan terlalu cepat memutuskan langkah-langkahnya.
Maklum, usia remaja tak selalu lahir dengan manajemen yang serba pasti. Alias, rencana-rencana itu justru tersirat begitu saja, dalam peristiwa-peristiwa yang tak terduga, seperti lahirnya berbaris-baris puisi, yang bisa tiba-tiba mencuatkan kejutan, dan bisa begitu saja meluapkan ketercenungan dengan penuh pertimbangan.
Hmmm.....kenapa hidup harus dipikir berat? Tidakkah ada yang lebih mudah selain memandangi bintang di waktu malam, atau merasakan tetesan hujan bulan November--lalu membawa semua itu ke dalam mimpi indah. Yah, nice dream.
"Hidup ini baiknya mengalir saja," kata Karina.
Ah, tetapi, semengalir-mengalirnya sungai tetap juga akan ketemu karang dan bebatuan--yang bisa menghambat lajunya, atau bisa juga mempermanis pemandangan.
Pria itu kemudian bertanya lagi:
"Apa sebabmu menyendiri di sini?"
"Tak mengapa, aku hanya ingin bersahabat lebih intim dengan alam."
"Siapa Tuhanmu, Karina?"
"Alam semesta."
"Sampai kapan kau bertahan di sini? Bukankah ular bisa memakanmu? Dan burung elang bisa saja mencabik rambutmu sampai patah?"
"Tak mungkin...."
"Mungkin saja. Semua di dunia ini mungkin terjadi."
…..
Burung merpati tiba-tiba hinggap di pundak Karina, terpekur kecil, seperti memberikan firasat atas panggilan alam. Lugu dan manja. Merpati putih dengan sedikit bulu abu itu diam menunggu belas kasihan, menunggu usapan dari gadis sengaja dipilihnya untuk hinggap. “Kau tahu, putih adalah kesucian, dan abu adalah perlambang penghapusan akan dosa,” kata Karina jinak pada merpati. Burung itu mengerti. Ia mengepakkan sedikit sayapnya. Seolah setuju kalau kelahirannya bukan semata memenuhi tanggung-jawab untuk terbang, tetapi juga menelusuri makna-makna.
Karina teringat lagi sejarah Skandinavia. Ia terkagum pada Balder, adalah Dewa kedamaian, keindahan, kegembiraan, dan kesucian dalam Mitologi Nordik. Dia adalah putera kedua Odin. Istrinya Nanna dan putranya bernama Forseti. Balder memiliki kapal terbesar yang pernah dibuat, bernama Hringhorni, dan sebuah balairung yang bernama Breidablik. Yang menyedihkan, Ia mati karena ulah Loki yang memperdaya Hodhr.
“Kau jangan mati merpati. Aku tahu, kenapa kau hinggap di sini. Karena kau menghindari kematian. Dan Balder pun tak pernah menyadari bahwa kesuciannya dimanfaatkan dalam tipu daya, sehingga ia mati, dan berhenti menjadi Dewa.”
Ingatan Karina masih sangat tajam. Satu pesan yang penting dari keajaibannya sebagai perempuan, adalah pengingatan akan sejarah kedamaian. Bukan saja hubungan antara manusia dan manusia, manusia dan Tuhannya, tetapi juga terhadap apa saja yang ada di dunia ini—sampai di batas-batas yang tak pernah kelihatan.
Vadso memang dikelilingi hamparan pesona laut dan juga sudut-sudut kecil tempat merpati beranak-pinak, melangsungkan metamorfosanya. Letak dusun ini ada di paling ujung utara Skandinavia, diapit Arctic Ocean dan Barent Sea. Jelas negeri ini jauh dari hiruk pikuk. Masyarakatnya menggantungkan hidup dengan melaut dan bertani. Hobens, ayah Karina, adalah seorang petani—tetapi naasnya, ia diteror oleh penyusup yang akhirnya menghanguskan ladangnya beserta Hobens dan istrinya Gabriele…
Sesudah peristiwa itu, 1978, Karina adalah seorang yatim piatu. Kemana pun pergi ia hanya sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung selesai…
Hidup bagi Karina adalah semacam pisau yang terdiri dari bermacam sisi. Kiri kanannya adalah ancaman, dan juga teror tanya yang berkepanjangan. Lembayung demi lembayung, hari demi hari, selalu menaklukannya dalam sepi. Kicau burung dan ranting yang jatuh begitu saja seperti mengekspresikan pesimisme dan optimisme di antara cita-cita. Dan lembayung itu masih tetap setia di atas, tak pernah merubah warnanya.
Sesekali Karina mengernyitkan kening dan bertanya:
“Apa yang dimaui lelaki itu, sampai ia bertanya aneh-aneh tentangku? Bukankah ia sudah mengerti apa yang tengah kuinginkan dan kurasakan?”
Jauh hari sebelum peristiwa demi peristiwa “tentang tanya seorang pria” itu mengisi pikiran Karina, ia sudah tahu ada yang tidak beres di sekeliling hidupnya…tetapi sekaligus, ia makin penasaran terhadap lelaki itu….
Disibakkannya rambut lurus dan gelap itu. Makin tak mengerti, tetapi juga makin tak karuan. “Misteri, misteri, dan misteri,” Karina bergumam. Penasarannya makin menjadi.
Bagaimana pun juga, Karina adalah gadis yang setia pada waktu, dan ia akan menjelaskan pada orang yang ingin menyelami perasaannya lebih dalam. Yang sungguh-sungguh menghargai perasaannya sebagai perempuan. Dan, yang mampu memberikan semangat demi semangat dalam setiap langkah sepi Karina mencari kesunyian.
Karena tak mungkin, gadis secantik Karina hanya rampung ditelan lembayung dan alam. Tak mungkin pula, gadis seramah Karina hanya selesai diombang-ambingkan teka-teki. Ia setia menjawab…dan terus menjawab… apapun pertanyaan lelaki itu.
Hubungan komunikasi keduanya makin hari makin terasa akrab. Pria yang belakangan diketahui bernama Rafaga itu banyak memberi ruang ungkap bagi perasaan Karina. Ia mengisi kesepian, setiap pagi mendatangi dengan salam, sarapan, dan sapaan yang hangat.
Diam-diam…ternyata Rafaga jatuh hati pada Karina. Begitu juga sebaliknya.
Hmmm… teristimewa, alasan Rafaga adalah karena kelembutan, keramahan, dan kesabarannya, bukan karena memelas.Ini semua seperti mukjizat yang begitu saja muncul tanpa adanya proses-proses doa dan kerja keras melampaui garis transendensi.
“Tahukah kamu, aku tak perlu bertanya apa-apa lagi padamu, Karina. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu, sesuai dengan ramalan yang dituliskan para pujangga. Sesuai dengan mimpi masa silamku. Bahwa di Vadso ini akan terjadi pertemuan antara lelaki dan perempuan, yang berujung pada perpaduan kasih abadi. Dipayungi lembayung yang mesra tanpa mendung. Dikelilingi aroma bulir tanah bulan Desember. Karina, aku ingin tenggelam di sebalik perasaanmu. Aku ingin bunga menjadi keindahan yang kita petik setiap hari. Aku ingin menyayangimu tanpa perlu berkata-kata, tetapi dengan perbuatan. Aku ingin menggenggam penuh harapan-harapkan yang kautiupkan pada langit. Kuyakin kamu merasakan hal yang sama, Karina…”
Suasana berubah hening…
Tak lama kemudian, keduanya berpeluk hangat..
Lembayung tak bisa berkata-kata lagi…
Kecuali diam dalam senyuman
Jogja, 30 November 2009