Kamis, 05 Agustus 2010
Oase di Senja Rock n Roll Indrayanti
Coretan ngawur ini kutujukan pada siapa pun yang menyelami kedalaman dengan tenang. Tanpa peduli takut. Itulah kesejatian. Dan musik, selalu mencoba membantu kita untuk tegar.
Dari pantai inilah rahasia tertulis. Pasir-pasir yang masih tersisa di celanaku adalah serpihan semangat, yang datang darimu: para pejalan yang tangguh.
**
Tetapi kawan, kupingku masih sulit mendengar, mana yang paling aman buat gendang telingaku saat ini. Hari ini aku dengar rock’n roll, besok keroncong, lusa uyon-uyon, the day after lusa aku dengar pop cengeng, next week aku suntuk dengan world music dari belahan dunia mana pun, dan sebagainya. Belum lagi telinga yang sedemikian terbuka untuk disco, rap, kontemporer, jazz, lagu-lagu gereja, dan...”Oh ya? Apa kabarmu Dedet yang membisikkan di telingaku growl Fanatik Buta yang ekstrim dari grup Hard Core nomor satu di Jogja, Something Wrong. Hehehe...”
Makanya, kawan, ketika kamu mendengarkan padaku lagu rock’n roll, aku masih seperti memandangi ombak yang bergerak dalam teksturnya yang tidak rapi, tapi morat-marit. Namun itulah hidup, kita-kita yang masih dikaruniai otak dan tensi darah yang stabil, tak kan pernah bisa menjalani sesuatu dengan rapi tanpa cela. Dari kemorat-maritan itu konon justru akan terlihat, sejauh mana kita diuji untuk makin lebih mengenal kesejatian. “Ah, masaaaakkkk?” Aku jadi ingat iklan Bentoel Sejati, rokok idolaku 5 tahun silam. Hehehe...
Banyak kebobrokan manusia, dari tingkat birokrat, pejabat, orang biasa, bahkan pemuka agama, yang tanpa sadar membantu kita untuk belajar. Paling tidak mengenali sejak dini, apa yang dirasa paling positif. Yang sudah diset rapi saja bisa meleset, apalagi yang dijalankan begitu saja tanpa komitmen. Ah, apa lah artinya komitmen? Dalam waktu sedetik pikiran manusia bisa berubah. Janji bisa hancur dalam sedetik juga. Terus apa? “Itu hanya soal mind-set”, kata temanku. “Kalau kamu menganggap selingkuh itu hal biasa ya jadinya tetap biasa. Kalau itu dosa ya dosa,” lanjutnya lagi. “Oh, begitu, ya? Oke dech.”
Kawan, saat ini aku masih menyelesaikan membaca buku berjudul “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi” (Elisabeth Inandiak: 2008). Buku ini adalah syair-syair kisah asmara yang begitu indah, di tengah konflik latar politik dan penyebaran Agama di abad 13 tahun Jawa. Tetapi mungkin, bagi yang tidak suka sastra, semua itu menjadi biasa, tidak indah lagi. Itulah kenapa selera orang akan seni bisa menjadi berbeda. Seleraku dan kamu juga beda, kawan. Aku kopi tubruk kamu es teh.
“Mari kita berfoto bersama, sebentar saja. Mumpung di sini.”
“Nanti aja...aku mau merekam laguku dulu. Ini lagu yang kubuat ketika masa SMA.”
“Oke dech...semoga bumi masih muter. Kalau sudah nggak muter nanti kita puter sendiri...”
Yah, beginilah. Pantaiku yang kecil. Pantai yang selalu ramah sebelum tsunami. Tapi mengkhawatirkan saat genset mati kehabisan daya. Dari selingkar hidup yang belakangan digoyang-goyang kegelisahan yang tak berujung. Gusti Allah say to me: “Penak tenan kowe ngrencanakke uripmu dewe, tanpo nglibatke aku? Yo tontonen dewe akibate” (Enak saja kamu merencanakan hidupmu sendiri tanpa melibatkan aku? Ya lihat saja sendiri akibatnya!). Rencana yang sudah diatur timik-timik, rapi, ternyata luput semua. Hancur seketika. Musnah ditelan sesuatu yang tak pernah terduga. Siklus hidup ini seperti teka-teki, kawan! Kalau lagu-lagu pop zaman sekarang mudah ditebak melodi dan akornya bakal lari ke mana, dalam electronic music kamu akan dibuat pusing oleh frekuensi! Misalnya ketika sahabatku Tony Maryana kutanya:
“Buat apa kamu belajar musik aneh-aneh seperti ini: c-sound, pure data, dan seterusnya?”
“Asyik aja, seperti belajar matematika. Ini permainan logika!”
“Oh, jadi musik ada hubungannya dengan logika, ya?”
“Yoi coy...muacchhh...”
“Hahahha....”
**
Langit berubah redup.
Lembayung makin manja.
Ada batu besar yang berlapis kayu.
Mungkin itu dulunya perahu karam dari nelayan abad silam.
Ah, tapi kita harus pulang sebelum gelap.
Lain kali kita berkunjung lagi ke sini, kawan!
Dan aku malah makin nggak ngerti, aku ini barusan nulis apa???
Embuuuhhhhhh.....
at Pantai Indrayanti
Rabu, 8 Juli 2010
Keheningan Cinta Neruda

Menyelami puisi-puisi cinta Pablo Neruda ini kita seperti diajak menikmati kesahajaan dan kelembutan, sekaligus ketangguhan yang tak berpihak pada apa pun, kecuali estetika mendalam pada puisi. Karya-karyanya mengalir tanpa tekanan. Pablo meramu irama, menahan nafas, merenung, lalu menghembuskannya seperti tanpa berpikir, tetapi sesungguhnya ia paling mengerti apa makna puisi.
Buku yang asalnya diterbitkan dengan judul Cien sonetos de Amor (Spanyol, 1960) ini kini tengah hadir di hadapan pembaca karena telah disulih ke dalam bahasa Indonesia. Ada empat babakan termaktub dalam Ciuman Hujan: Seratus Soneta Cinta Pablo Neruda (2009) ini. Pagi, siang, senja, malam. Seakan melukiskan pergulatannya tanpa henti pada puisi, seperti tampak juga dalam karya-karyanya yang lain.
Tia Setiadi, si penyulih menulis, bahwa puisi Neruda lebih dekat ke nafiri kejujuran tanpa pretensi, kerendahan hati dan senandung rasa syukur yang tulus pada kemahaluasan hidup. Puisi semacam ini bisa dipadankan dengan kejernihan dan kepadatan kristal-kristal batuan yang dinafasi oleh tenaga hidup atau denyar-denyar asmara, sehingga berbinar-binar, bagaikan vibrasi gelombang cahaya. Tiap-tiap langkah dalam sajak adalah langkah-langkah kecil menuju keindahan. Semua itu terinspirasi dari peristiwa-peristiwa biasa dalam keseharian.
Sudah tentu, sebagai karya terjemahan, baris-baris yang tersaji dalam buku ini pasti menampakkan—setidaknya—kekeliruan tafsir dalam beberapa sisi yang tak diketahui begitu saja—Dan, pilihan-pilihan kata yang terkesan subyektif nyaris seperti memerangkap keintiman pembaca dalam bayang-bayang penerjemahnya. Diakui Tia Setiadi itu sulit. Menerjemah seperti halnya membuat puisi. Itu wajar, karena sudah tak mungkin membangunkan Neruda untuk diajak berdialog tentang puisi-puisinya ini.
Pablo Neruda, yang pernah menjadi Duta Besar Chili di Perancis—dan pada tahun 1970 pernah dicalonkan menjadi presiden Chili tapi urung ini, sering disebut-sebut sebagai penyair terbesar Amerika Latin. Neruda meraih pelbagai penghargaan internasional, di antaranya: International Peace Prize (1950), The Lenin Peace Prize dan The Stalin Peace Priza (1953) dan The Nobel Prize for Literature (1971), sampai akhirnya ia wafat September 1973 karena leukemia. Ia sempat bermukim pula di Indonesia untuk beberapa saat. Neruda juga sempat menulis ode untuk Stalin karena kekagumannya pada Uni Soviet.
Neruda jelas tak sekadar sastrawan yang diam dan merenung seharian di dalam kamar. Dari pernghargaan yang diraihnya, kiranya tidak berlebihan jika ia disebut pejuang kemanusiaan dan perdamaian. Berkobarnya Perang Saudara Spanyol menjadi arus balik dalam kehidupan Neruda yang tadinya individualis menjadi seorang aktivis dengan komitmen sosial dan solidaritas yang tinggi. Mau tidak mau, debutnya sebagai sastrawan lantas selalu dibarengi aktivitas politik.
Tetapi untunglah, Pablo masih menyimpan sisi romantis dan melankolis yang sangat tinggi. Puisi-puisi yang sebetulnya hanya dipersembahkan pada Matilde Urrutia ini adalah oase dari keintimannya bergulat seutuhnya pada manusia dan dunia. Simaklah sepenggal penutup dalam salah satu baris puisinya: sejauh ini, di mana aku tak ada, kau juga tak ada/ begitu dekat sehingga tanganmu yang di dadaku tak lain tanganku/ begitu dekat sehingga ketika aku tidur seolah matamulah yang terpejam. Duh, romantisnya.
Ayo Berperang Melawan Kebisingan
Apa masalah manusia sekarang selain krisis kepemimpinan? Adalah kebisingan. Ini memprihatinkan dan harus segera mendapat perhatian. Ini masalah besar yang harus segera diatasi. Bayangkan saja, berapa ratus kendaraan bermotor dengan bunyinya yang berlalu lalang setiap hari. Orang lebih mempermasalahkan polusi udara daripada bunyi (bising)-nya, karena apa yang terjadi di telinga umumnya tidak disadari. Lewat begitu saja. Tetapi ternyata, kualitas pendengaran manusia turun dari hari ke hari. Sekitar 5200 bayi Indonesia lahir tuli. Inilah masalah biologis manusia sekarang, di tengah kebobrokan politik dan pemerintahan yang makin tak bisa dipercaya.
Faktanya, pada tahun 2000 WHO melaporkan bahwa penduduk dunia yang menderita gangguan pendengaran adalah 250 juta orang (4,2 %); separuhnya di Asia Temggara 75-140 juta dengan data ketulian 4,6 %, termasuk Indonesia; bayi lahir tuli (kesulitan komunikasi) sejumlah 0,1 – 0,2 %.
Apa penyebab kebisingan? Kemajuan teknologi sebagai tanda zaman berperan besar menjadi penyebab kebisingan ini. Transportasi darat, laut, udara, mesin-mesin berat pembuat jalan, bangunan, industri, sampai peralatan rumah-tangga, pengeras suara (termasuk head-phone). Kondisi keramaian dari gaya hidup orang modern juga menjadi penyebabnya: adanya mal, tempat bemain game, di tempat disko dan pentas musik yang menggelegar—orang memang menikmati bunyinya, tetapi tanpa sadar energi mereka terkuras habis, dan kualitas pendengaran mereka berkurang dari waktu ke waktu. Makanya, kita sering mendengar semua kata yang disampaikan orang, tetapi kadang-kadang tak mengerti maksudnya.
Masalah kebisingan tak cukup biologis saja, tetapi juga bisa mengakibatkan penderitaan psikologis, ekonomis, terganggunya jaringan syaraf, metabolisme tubuh dan bahkan kejiwaan. Sebuah bandara di Indonesia yang konon paling megah dan beraksitektur “bagus” ternyata tidak didukung akustik yang memadai. Akibatnya, ketika speaker berbunyi memberi informasi jam keberangkatan pesawat, bunyinya terasa menggaung tidak jelas. Lantas banyak penumpang yang ketinggalan pesawat. Orang Indonesia masih memperhatikan visual daripada auditif. Masih suka yang nampak daripada yang tak tampak.
Masalah ini umumnya memang tidak disadari, bukan karena orang menganggap remeh, tetapi karena mereka tidak tahu dampak dan akibat dari bunyi-bunyi yang saban hari menyerang kita itu. Banyak bunyi di sekitar yang melebihi batasan kemampuan mendengar kita. Lumrahnya, ketika anak-anak dapat menangkap bunyi 16Htz – 30.000Htz, pendengaran orang dewasa menurun menjadi 16Htz – 20.000 Htz. Itu yang normal, tetapi perjalanan manusia dan bunyi selalu ada unsur tak terduga.
Fakta ribuan bayi yang lahir tuli mengakibatkan beban keluarga, masyarakat dan bangsa yang akut. Tanpa kita sadari ternyata banyak anak yang telah menderita gangguan pendengaran. Suatu kelainan sangat berat. Karena desakan beberapa orang yang peduli masalah ini, maka dibentuklah Komnas PGPKT (Pencegahan Gangguan Pendengaran dan Ketulisan), sebuah LSM yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan RI 2007 untuk menunjang program WHO Sound Hearing 2030 (www.ketulian.com, seperti tercantum di Majalah Bhinneka 2009).
WHO memang tengah menyasar Program 2030, yang isinya sampai tahun 2015 adalah penurunan 50% maksimal sisa penderita; dan tahun 2030 penurunan maksimal sisa penderita.
Pada Januari 2010, Akademi Jakarta, sebuah organisasi para cendekiawan, mengadakan Rapat Kerja Mengatasi Polusi Kebisingan yang dipelopori oleh komponis senior Indonesia Slamet A. Sjukur. Dalam rapat itu dibahas dampak dan solusi masalah ini. Hadir beberapa ahli lintas disiplin seperti pakar THT, neurologi, akustik-lingkungan, psikologi, dan hukum—yang antara lain hadir dalam forum terbatas itu: Ahmad Syafii Ma’arif, Sugianto, Abduh Aziz, Soe Tjen Marching, dan seterusnya.
“Ini sebetulnya mudah diatasi, cuma dari dulu kita belum mengerti bagaimana mengatasinya,” ujar Slamet A. Sjukur dalam wawancara terbatas dengan penulis di Yogyakarta Februari lalu.
Jika kita pergi ke toko bangunan, ada sebuah alat seperti head-phone yang dibuat khusus untuk orang-orang proyek. Fungsinya sebagai alat peredam bunyi lingkungan yang bising. Sehingga ketika kita memakai alat itu, volume bunyi sekitar menjadi jauh lebih kecil, telinga kita tidak terganggu.
Solusi konkrit lain dari masalah ini memang tidak begitu saja menjadi usaha yang langsung “menyembuhkan”—tetapi setidaknya masyarakat kita bisa lebih memiliki perhatian mendalam dan kategorisasi terhadap bunyi bising.
Ayo perangi kebisingan, ciptakan kedamaian di telinga!
Senin, 12 April 2010
dari hitungan ke sekian
dari hitungan ke sekian,
suarasuara langit masih diam
Tabib, adakah obat untukku?
April, 2010
Rabu, 10 Februari 2010
Kuncup Waktu
tanpa perlu kau bicara, aku telah mengenalinya...
: senyummu rekah--dari bulirbulir cahaya mata
untukku tetap singgah, dalam pelukmu dan nafasmu
bungabunga tumbuh begitu saja tanpa peran manusia
air hujan deras menyiraminya, membuatnya subur
ku memandanginya seperti kumelumat dan menikmati bibirmu
yang berpagut hangat dalam hujan,
dan tetap menjadi hujan yang menyegarkan
sementara pelangi mengelilingi langit
seperti rahasia yang pelanpelan kita cari
saban hari kumenghitung waktu
kuncupkuncup itu lamalama akan sampai di dahimu
aku tertidur dan kamu mencium
kamu mencium dan aku tertidur
kita tenggelam dalam nafas
: membawanya ke hulu mimpi
Erie,
Jogja, 10 Feb 2010
Minggu, 24 Januari 2010
Harapan yang Tidak Melahirkan Kekecewaan
Sejatinya manusia punya harapan. Dan secara sederhana, harapan itu muncul karena dorongan untuk memiliki, menginginkan, dan mendapatkan sesuatu. Jika harapan itu terwujud, yang dirasa adalah rasa senang sebelum hirau akan sebab akibat sesudahnya. Umpamanya, ketika manusia berharap dirinya kaya, ia akan memperjuangkan diri supaya ia menjadi kaya. Bisa dengan cara bekerja keras, juga bisa dengan cara jahat: misalnya merampok. Yang penting, tujuannya mencapai kekayaan dapat tercapai.
Harapan itu boleh-boleh saja. Tidak ada yang salah atas ini semua. Tetapi sekarang kita perlu bertanya ulang: bagaimana cara kita memanajemeni harapan? Apa yang harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan berharap akan sesuatu?
Pelajaran ini akan memberi manfaat kepada kita untuk menepis rasa kecewa. Karena banyak kejadian, ketika manusia berharap terlalu banyak, dan ketika tidak mendapatkan yang ia harapkan, selanjutnya ia kecewa, dan bisa berujung pada frustasi, stres, bahkan celaka naga dan bunuh diri. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan. Oleh sebab itu, harapan juga musti kita kelola dengan pikiran dan perasaan yang baik, supaya sebagai manusia, kita bisa belajar meningkatkan kualitas diri dari hari ke hari, menjadi baik secara fisik dan rohani. Goal dari pelajaran ini sebenarnya adalah: kita tidak diperkenankan berharap terlalu banyak dalam hal apa pun, selain sewajarnya saja, untuk menjauh dari rasa kecewa.
Suatu ketika, cinta di antara sepasang remaja menghasilkan kematian, di suatu daerah, di Tokyo. Alasannya sederhana, cinta yang ditolak. Karena frustasi berkepanjangan, pemuda yang bernama Huang Fan itu sengaja bunuh diri dengan cara meminum racun. Cie Li Fu, gadis yang dikaguminya, betapapun ia tak mencintainya, merasa benar-benar terpukul akibat kejadian itu. Saban hari gadis itu dihantui rasa bersalah berkepanjangan, tak bisa tidur nyenyak karena berpikiran macam-macam. Karena tak sanggup menahan rasa traumatik yang menyiksa batin dan pikirannya, akhirnya si gadis menyusulnya dengan melakukan bunuh diri juga, dengan cara yang sama. Alhasil, keduanya mati.
Cinta menjadi sebuah kata bisu yang hanya melahirkan kematian, bukan keabadian.
Kisah di atas menjadi salah satu contoh “tidak bekerjanya pikiran dan perasaan” dalam rangka memutuskan sesuatu: rasa kecewa menjadi segalanya. Kalaupun cinta adalah sejarah panjang dari hidup manusia, alangkah manusia sesungguhnya bisa belajar dari berbagai macam literatur yang ada. Atau, banyak sekali kisah abadi yang menguatkan manusia karena cinta, yang sesungguhnya intinya adalah kasih, sebuah pertautan antara kesabaran dan kesungguhan, juga rasa saling memiliki dan menghargai demi tujuan mulia. Oleh karenanya, emosi dalam pengertian kemarahan, dengan sendirinya akan menjauh.
Perlunya berpikir “panjang” dan berwawasan luas
Orang yang luas wawasannya, tentu akan berpikir lebih dewasa daripada yang sempit wawasannya. Kedewasaan yang dimaksudkan di sini adalah kemampuan menimbang kejadian demi kejadian, dan menemukan solusi yang tepat atas setiap permasalahan-permasalahan yang dialami. Orang dewasa (bukan dalam pengertian umur), tidak harus orang pintar atau cerdas. Kedewasaan adalah pembelajaran, atau keterbukaan untuk mengenali hal-hal paling mendasar dari hidup manusia, juga mendalami sebab akibat dari setiap keputusan. Makanya, orang yang sudah tua belum tentu dewasa, begitu juga sebaliknya, orang yang masih remaja juga belum tentu tidak dewasa.
Kalau manusia dipahami sebagai dimensi waktu dan peristiwa, di dalamnya akan termaktub keputusan demi keputusan dalam menentukan hidupnya. Salah satu ciri orang dewasa adalah selalu hati-hati jika bicara. Ia sanggup melihat persoalan secara mendalam dan mengatasinya dengan pikiran jernih, tak pernah bermaksud merugikan orang lain.
Sesungguhnya, pelajaran menepis rasa kecewa ini sangat berhubungan dengan kemampuan mendewasakan diri. Lalu, bagaimana usaha untuk mendewasakan diri? Banyak sekali jalan.
Salah satunya adalah dengan membaca pengetahuan apa saja, terutama psikologi dan humanisme (ilmu-ilmu kemanusiaan) dengan tekun, tanpa berpikir membaca itu bikin ngantuk atau membosankan. Tetapi haruslah berpikir sebaliknya: membaca itu menyenangkan dan ilmu akan bisa diaplikasikan untuk mengatasi masalah-masalah manusia. Penting pula untuk bergaul dan belajar kepada banyak orang, siapa pun itu, tanpa harus menutup diri.
Menjadi psikolog untuk diri kita sendiri
Ilmu psikologi paling menyumbang banyak hal untuk mengatasi persoalan manusia, dari masalah sederhana sampai akut. Psikologi memberikan perhatian yang lebih luas bukan hanya pada tingkatan teori, tetapi juga praktek-praktek yang mampu memperkecil jumlah kematian seseorang yang diakibatkan karena frustasi.
Banyak psikolog atau konsultan yang sungguh-sungguh memahami persoalan hidup, karena sebelumnya mereka pernah mengalaminya dan belajar banyak dari buku-buku. Psikolog jelas bukan peramal, yang hanya melihat persoalan dari “terawang”. Psikolog adalah murni manusia, yang memiliki kemampuan membaca mimik, gestur, sikap, sifat, cara, dan segenap dimensi manusia yang lain. Oleh karenanya, psikolog harus membekali dirinya dengan bermacam ilmu, seperti antropologi, sosiologi, manajemen, agama, dan sebagainya.
Tulisan ini tidak menyarankan untuk bergantung kepada para psikolog yang biaya konsultasinya mahal. Tetapi justru, tulisan ini akan membimbing kita untuk menjadi psikolog, minimal bagi diri kita sendiri. Alias, sebetulnya gampang kok menjadi psikolog! Supaya, ketika menghadapi setiap permasalahan, pikiran kita menjadi lebih terbuka dan sanggup mengatasi semuanya dengan gembira, tanpa ada kerugian fisik atau batin yang diakibatkan karena masalah itu.
Harapan yang sewajarnya
Nah, kembali kepada harapan. Ada sebuah pertanyaan: bagaimana harapan yang sewajarnya itu? Apa ukuran untuk menentukan bahwa kita sudah netral, atau berharap sewajarnya tadi?
Contoh sederhana adalah mengharapkan perhatian dari orang lain. Apakah itu wajar? Dalam terminologi urban-modern, dikenal istilah “caper” atau cari perhatian. Apa maknanya? Apakah manusia tidak boleh berharap untuk mendapatkan perhatian, dari teman, adik, sahabat, kakak, orang tua, pacar, orang tak dikenal, dan sebagainya. Boleh-boleh saja. Akan tetapi, sejauh mana yang kita harapkan itu sebelumnya juga harus jelas terlebih dahulu.
Misalnya, ketika sebelum kerja kita berharap dikirimi sms yang isinya: “Met pagi. Met kerja. Hati-hati ya..jaga diri baik-baik jangan lupa makan.”—itu sesungguhnya hal yang sangat wajar. Tetapi ternyata, harapan kita itu tidak terkabul, alias, orang yang kita harapkan akan mengirimi sms itu ternyata malah nggak ngirimin. Apa yang terjadi? Kita kecewa karenanya.
Nah, sesudah itu, ketika di perjalanan menuju kantor, kita justru tidak memikirkan jalan, tetapi memikirkan kekecewaan tadi, karena harapan kita tidak terkabul. Konsentrasi mengendarai motor jadi hilang. Akibatnya, ada sebuah kejadian kecelakaan yang mengakibatkan kita jatuh dari motor karena kondisi pikiran kita blank seketika.
Nah...dalam kasus ini, harapan telah berubah menjadi kekecewaan, dan kekecewaan telah berubah lagi menjadi celaka, karena kita berharap orang lain ikut menyelamatkan kita dengan kata: “hati hati ya...” tetapi kita sendiri tidak punya kekuatan untuk menjaga diri kita sendiri tanpa bergantung dari perhatian orang lain. Kita lantas menyalahkan orang yang tidak mengirimi sms tadi: “Gara-gara kamu nggak ngirimi sms aku jadi kecelakaan!”
Hmmm....coba kita coba bedah masalah ini pelan-pelan.
Kita akan melihat dari sudut “si pengirim sms” dan sudut “yang dikirimi sms”. Sebelumnya kita harus paham posisi keduanya, tanpa berpikir pembicaraan ini terjadi antara teman, sahabat, atau pacar. Yang jelas pembicaraan ini adalah antara manusia dan manusia, bukan setan dan setan, atau jin dan jin, atau demit dan demit, atau warok dan iblis, atau nyi roro kidul dan mbah jogo. Bukan itu. Ini hanyalah manusia antara manusia.
Kasus di atas jelas menunjukkan, si pengharap terlalu percaya bahwa kata-kata punya kekuatan lebih besar dari kemampuan manusia sesungguhnya yang mandiri. Si pengharap terlalu percaya intensnya komunikasi lewat hand-phone akan menunjukkan kualitas dan keselamatan. Si pengharap terlalu percaya bahwa ungkapan “hati-hati ya..” menjadi bagian penting yang rasanya mutlak untuk dibaca, dicermati dan ditafsirkan. Si pengharap terlalu kacau pikirannya, kerena ia sesungguhnya tidak memahami hal yang paling mendasar dari unsur komunikasi antar manusia: yaitu kesabaran, kerendah hatian dan menerima apa adanya.
Mustinya, jika si pengharap tadi berwawasan luas, dewasa dan berpikir panjang, yang ada di kepalanya tentu berpikir lain, apakah si pengirim sms tadi tengah sibuk, sehingga tak sempat memberi “perhatian”. Ataukah pulsa si pengirim sms tadi habis, sehingga tak bisa mengirim sms. Ataukah si pengirim sms tadi tengah lupa, karena ia sedang memikirkan hal lain yang menurutnya lebih penting daripada sekadar kebiasaan mengirim sms kepada temannya. Ataukah, yang paling mendasar, si penerima sms mustinya tidak boleh berharap apa pun kepada si pengirim sms, kalau isinya hanya sekadar kebiasaan yang tidak benar-benar memberikan informasi yang penting untuk dijadikan bekal selama perjalanan. Jadinya, sesungguhnya si penerima sms kudu mandiri, dan tidak memiliki kebergantungan terhadap perhatian-perhatian orang lain.
Refleksi diri setiap hari
Selanjutnya adalah proses refleksi diri, bahwa yang paling penting dari ini semua, adalah sewajarnya kita manusia membentengi diri dan mengoptimalkan kemampuan-kemampuan diri dengan memanajemeni harapan dengan wawasan luas. Bukan berarti perhatian orang lain tidak kita butuhkan. Itu tetap perlu. Tetapi sebelumnya, yang lebih penting adlah kita harus makin optimal “memperhatikan diri kita sendiri dulu” dengan optimal, sebelum berharap orang lain memperhatikan kita. Sudahkah hal itu dilakukan?
Hmmm....tentu saja kita tidak ingin mengkoleksi rasa kecewa sampai terkumpul satu almari.
Solo, 24 Januari 2010
Senin, 18 Januari 2010
Wish You Were Here
aku angin yang berkelibat di antara dingin malammu,
aku salju yang membalut gelora panas hasratmu,
sampai kau tak sadarkan diri, tengah melamunkanku malam ini…
biarkan dirimu berdiam di situ sendiri…dan pelanpelan kau akan katakan,
sebuah kalimat yang tak punya pengganti lagi:
“sejujurnya aku mencintaimu,” katamu.
lalu kau bilang dalam hati: “aku membutuhkanmu”
sesudah itu kau kembali berkata: “wish you were here”
kuyakin itu datang seketika,
ketika kesepian demi kesepian bermukim di dahimu,
pada saat kau dikurung selimut tebal…
yah…itulah isyarat sebuah kerinduan…
yang tak bisa dipungkiri lagi…
kau tentu masih ingat sajak Pablo Neruda yang katamu so sweet :
ketika ku tertidur, seolah matamulah yang terpejam
hehe...
So, dengan sendirinya kita akan didatangi cinta,
tanpa perlu kita mencarinya…
Jogja, 18 Januari 2010